Warning: touch() [function.touch]: Unable to create file /var/home/vhosts/pfi3p/public/plugins/content/imagesresizecache/lastclean because No such file or directory in /var/home/vhosts/pfi3p/public/plugins/content/plg_imagesized.php on line 380

Pemberdayaan Petani

E-mail Cetak PDF

Target P4MI sekitar 1000 desa, tetapi karena desakan dari Pemerintah Daerah jumlah yang harus ditangani sampai dengan tahun 2007 menjadi 1053 desa, belum termasuk desa-desa hasil pemekaran yang berjumlah 94 desa. Jumlah desa yang telah dicakup P4MI sampai dengan 2006 adalah 591 desa, dan sampai dengan bulan Nopember 2007 dapat dicakup 159 desa, sehingga yang tersisa untuk tahun 2008 diperkirakan sebanyak 303 desa, dan apabila ditambah dengan desa hasil pemekaran akan menjadi 397 desa.

Keberhasilan Pemberdayaan Petani

Komponen ini merupakan inti P4MI, meliputi mobilisasi kelompok tani, pengembangan kelembagaan petani dan investasi infrastruktur desa. Kelompok Tani telah dimobilisasi dan diberdayakan serta prioritas kebutuhan investasi desa mereka telah diidentifikasi dan disetujui.

Pendekatan partisipatif telah berhasil menumbuhkan rasa memiliki dan kebersamaan dalam operasi dan pemanfaatan sarana umum hasil investasi desa, yang terlihat dalam:

  1. Jumlah kontribusi petani dalam pembiayaan investasi desa, rata-rata 28 %, melebihi ketentuan yang ada (PAM) ialah 20 % (Tabel 2), dan cenderung meningkat dari tahun ke tahun.
  2. Aset petani dalam bentuk lahan dan pohon-pohon produktif di lokasi yang akan digunakan untuk pembangunan sarana dan prasarana umum desa diberikan secara cuma-cuma, dan dikukuhkan dalam bentuk pernyataan tertulis yang dilampirkan pada usulan/proposal investasi desa.
  3. Pelaksanaan kegiatan investasi desa dilakukan secara gotong royong, tidak saja oleh para petani pria, tetapi diikuti juga oleh wanita dan remaja tani.
  4. Untuk menjamin keberlanjutan hasil kegiatan investasi desa telah disusun mekanisme operasionalisasi pemanfaatan dan pemeliharaannya, meski masih beragam, tergantung pada kondisi sosial budaya petani setempat. Beberapa Komite Investasi Desa (KID) telah merumuskan mekanisme tersebut secara tegas dalam bentuk peraturan desa (Perdes).
rsentase jumlah kontribusi masyarakat/petani dalam investasi desa dibanding dana Loan ADB tahun 2003-2006

No.

Kabupaten Loan ADB Swadaya
1.   Blora  82.56  17.54
2.  Temanggunh  66.73  33.27
3.  Lombok Timur  60.51  39.49
4.  Ende  78.35  21.65
5.  Donggala  69.34  30.66
   Jumlah  71.67  28.33

Tugas dan tanggung jawab KID yang utama adalah mengelola kegiatan investasi desa, dimulai dari musyawarah desa, menentukan alokasi kegiatan, perencanaan, dan penyusunan proposal, pelaksanaan dan pengelolaan dana investasi serta pemanfaatan dan pemeliharaannya.

Manfaat dan Dampak

Sinergi antara pengembangan kapasitas petani dan pembangunan infrastruktur pertanian di desa terbukti secara efektif dapat merangsang kemampuan petani untuk berinovasi dalam kegiatan pertanian seperti ditunjukkan dari hasil kajian dampak awal. Manfaat dan dampak positif kegiatan P4MI tersebut telah dirasakan oleh petani, seperti terlihat pada contoh-contoh berikut:

  • Pembangunan Bendungan Mini. Pembangunan infrastruktur pertanian ini merupakan suatu prestasi luar biasa dalam kegiatan investasi desa yang dilakukan secara partisipatif di Desa Jenggik Utara, Lombok Timur. Bendungan seluas 0,82 ha, dengan kedalaman 7,50 m, dan daya tampung air sekitar 7000 m3 ini menghabiskan total biaya sebesar  Rp 894.800.000 dimana kontribusi dana/in-kind masyarakat mencapai 4 kali lipat atau sebesar Rp. 708.500.000 dibandingkan dana yang  berasal dari dana pinjaman Asian Development Bank (ADB) yang hanya sebesar Rp. 186.300.000,- Bendungan ini dapat mengairi sawah seluas 420 ha dan meningkatkan produksi padi dari 4 ton/ha menjadi 5–6 to/ha serta indeks tanam dari 200% menjadi 300% (padi-padi-palawija/ sayuran/tembakau). Lokasi ini direncanakan untuk dikembangkan sebagai pusat penangkaran benih padi. Selain itu, air juga dimanfaatkan sebagai sumber air bersih.

  • Pembangunan saluran irigasi Dengan perbaikan saluran irigasi sederhana yang dilakukan masyarakat secara partisipatif di Desa Limboro, Donggala, lahan sawah bero seluas 30 ha selama 3 tahun akhirnya dapat difungsikan kembali. Penanaman padi dapat dilakukan 2 kali per tahun, sehingga pendapatan petani meningkat hingga 143%.

  • Penyediaan irigasi dan air bersih.Telah dibangun saluran air di desa Rarang, Lombok Timur secara pompanisasi dan pipanisasi dengan memanfaatkan sebagian air sungai yang mengalir sepanjang tahun ke kolam penampungan seluas 890 m3. Air dari kolam ini kemudian dinaikkan ke tangki air setinggi 12 m dengan kapasitas 18 m3 dengan pompa berkekuatan 10 HP (akan ditingkatkan menjadi 24 HP dengan dana swadaya). Dari tangki, air dialirkan melalui dua pipa berdiameter 4 inci sepanjang 518 m ke bak pembagi dengan daya tampung 400 m3.  Dari bak pembagi inilah air dialirkan ke lahan/sawah seluas 100 ha. Keberhasilan ini kemudian dilanjutkan dengan pembangunan sistem penyediaan air minum dengan cara yang sama dan sepenuhnya menggunakan dana swadaya masyarakat.

  • Pengembangan agroindustri skala rumah tangga. Wanita tani di Blora dan kabupaten lain telah mengembangkan industri rumah tangga berupa pengolahan bahan-bahan hasil produksi pertanian yang ada didesanya menjadi berbagai produk olahan, misalnya keripik, sirup, dodol, dsb. Hasil industri rumah tangga ini mampu menambah pendapatan keluarga. Beberapa produk olahan hasil kegiatan kelompok wanita tani bahkan telah memperoleh nomor registrasi dari Dinas Kesehatan seperti kelompok wanita tani di desa Canggal, Temanggung. Dengan memiliki nomor registrasi ini membuka peluang produk olahan tersebut dapat lebih luas menjangkau pasar dan dapat diterima konsumen.

Inilah beberapa contoh keberhasilan yang dicapai dari proses pemberdayaan petani dalam membangun kemandirian masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Selain manfaat yang telah dirasakan masyarakat tani, hasil kegiatan P4MI juga telah diakui manfaatnya oleh Pemda Kabupaten dan jajaran stakeholders lainnya di daerah. Manfaat seperti ini pulalah yang membuat Pemerintah Kabupaten sangat antusias dalam mendukung proyek ini seperti tercermin pada dukungannya yang konsisten dalam penyediaan dana pendamping dari APBD.  Dukungan dari dinas/instansi terkait tersebut berupa berbagai program anggaran APBD yang telah disinergikan dengan kegiatan P4MI.

Dukungan permodalan yang bersifat stimulan untuk memenuhi kebutuhan petani dan kelompok tani secara terprogram dilaksanakan oleh Kabupaten Temanggung sebesar Rp. 16,5 juta/desa.  Pembentukan lembaga keuangan mikro (LKM) percontohan di 15 desa di Kabupaten Donggala, penguatan usaha bersama simpan pinjam (UBSP) di 60 desa di kabupaten Ende.  Upaya konsolidasi dilakukan untuk menghidupkan kembali unit pelaksana keuangan desa (UPKD) dan disesuaikan dengan aktivitas KID. 

Untuk lebih menjamin keberlanjutan semangat kemandirian dan partisipasi masyarakat yang telah terbangun selama ini, 53 desa di kabupaten Temanggung secara spesifik telah terkoordinasi dengan pihak terkait dalam program Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan (PUAP) dan SP-3 dari Departemen Pertanian.  Kabupaten Lombok Timur di banyak desa berhasil mensinergikan program P4MI dengan program lain yang berbentuk investasi fisik. Hal ini dapat dijadikan model untuk lebih mengembangan dan memperkuat peran dan fungsi KID pasca program P4MI.

Di Kabupaten Blora seluruh desa kelompok tani wanita (KWT) telah mendapatkan pelatihan ketrampilan pengolahan produk-produk yang berbasis komoditas unggulan lokal.  Jika dikonsolidasikan dan didukung dengan penguatan kelembagaan dapat menggerakan pertumbuhan ekonomi pedesaan. 

Demikian pula inisiatif KT/Gapoktan di Sembalun, Lotim dalam mngembangan desa menjadi sentra kentang yang bermitra dengan industri pengolahan, dan kecamatan Sambelia dengan komoditas pisangnya.  Potensi ternak sapi di Donggala dan Lombok Timur serta Blora dapat dikembangkan sebagai percontohan pengembangan energi alternatif dan pupuk organik melalui diseminasi teknologi biogas. Disamping itu dukungan dinas-dinas dilakukan melalui berbagai kegiatan yang disinergikan dengan kegiatan P4MI.

Hambatan

Berbagai hambatan yang dihadapi dalam pelaksanaan P4MI di lapangan, antara lain:

  • Pemberdayaan merupakan proses yang memerlukan waktu cukup panjang karena memerlukan perubahan pola pikir dan perilaku serta penumbuhan rasa percaya diri dan kemandirian petani. Efektivitas kegiatan pemberdayaan ditentukan berbagai faktor internal dan eksternal petani/kelompok tani. Oleh karena itu di satu desa proses dapat berjalan cepat dan efektif, tetapi di desa lainnya sangat lambat dan banyak hambatan yang berakibat kegagalan dalam mengubah kondisi mentalitas masyarakat yang berujung pada kegagalan proses pemberdayaan secara keseluruhan.

  • Kegiatan P4MI dilaksanakan sesuai dengan ketentuan siklus kegiatan program/proyek yang umumnya didanai pemerintah dalam arti jangka waktu pelaksanaan, prosedur administrasi dan pelaksanaan teknis yang telah ditetapkan pemerintah. Sementara keadaan di lapangan sering sukar/tidak dapat dikompromikan dengan aturan tersebut. Konsekuensi perbedaan antara tuntutan di lapangan dan ketentuan yang ada dapat menimbulkan hambatan dan penundaan suatu kegiatan dengan segala akibatnya bagi masyarakat awam yang tidak memahami birokrasi.

  • Intervensi dari proyek/program lain yang berbeda strategi kebijakan implementasinya dengan P4MI menyebabkan motivasi masyarakat menurun. P4MI yang didasari partisipasi dan perencanaan dari bawah mampu mengubah persepsi petani dalam proses pemberdayaan yang lebih mengutamakan kemandirian. Dengan keberadaan proyek/program lain di lokasi sama dengan orientasi perencanaan dari atas dan non-partisipatif telah meracuni mentalitas masyarakat yang berakibat menghambat kegiatan P4MI.

  • Demikian juga bagi daerah-daerah yang terlalu sering menerima program/proyek yang di drop dari atas, mentalitas masyarakat kurang bergairah dalam melaksanakan kegiatan yang bersifat partisipatif. Kebiasaaan masyarakat yang hanya menerima berbagai bantuan tanpa upaya apapun dan juga aparat pemerintahan desa atau kecamatan yang lebih berfungsi sebagai kontraktor atau broker penyaluran bantuan sangat mengganggu kelancaran kegiatan P4MI karena mereka apatis bila harus berupaya dalam berpartisipasi untuk kegiatan-kegiatan yang sebagian harus dipikul mereka sendiri.

  • Beberapa wilayah memiliki kondisi geografi terpencil yang sukar dijangkau. Tidak hanya mengalami kesulitan untuk mencapai lokasi, tetapi untuk dapat mengumpulkan petani dalam suatu pertemuan merupakan upaya yang sering gagal dilakukan. Di beberapa desa terpencil, petani harus tinggal beberapa hari di ladang yang jauh dari tempat tinggalnya. Kondisi seperti ini sangat sukar untuk dapat memobilisasi dalam rangka peningkatan kapasitas mereka.

  • P4MI dalam kegiatan pemberdayaan petani mengandalkan tenaga lokal, baik dalam pendampingan dan pelatihan kelompok tani, pengurus KID maupun FAD dengan merekrut fasilitator desa dan staf LSM lokal dengan harapan dedikasinya lebih tinggi. Namun untuk mendapatkan tenaga dengan kualitas yang memadai tidak mudah dapat dijaring di beberapa daerah yang masih terbelakang. Demikian juga pengurus KID dan FAD dengan personil yang cukup berkualitas sukar dapat diwujudkan. Sebagai konsekuensinya kegiatan-kegiatan P4MI di beberapa daerah terbelakang masih kurang optimal.

  • Walaupun telah banyak teknologi hasil penelitian dihasilkan untuk lahan marginal, tetapi adopsi teknologi tersebut masih rendah, karena proses adopsi teknologi memerlukan waktu. Dengan pendekatan partisipatif P4MI proses adopsi dapat diperpendek bahkan umpan balik ke lembaga penelitian dapat ditingkatkan.<

  • Hambatan utama dalam pemanfaatan informasi secara elektronik adalah ketersediaan sambungan telepon/internet dan listrik yang belum menjangkau semua desa lokasi P4MI. Guna menjangkau petani yang tersebar luas maka penyebaran informasi secara elektronik  perlu didukung dengan berbagai metode konvensional seperti kunjungan, temu lapang, seminar dan berbagai pertemuan tentang teknologi, pameran teknologi, penerbitan media cetak (leaflet, brosur, poster), siaran radio dan televisi, petak demonstrasi, gelar teknologi,  dll.